Kamis, 30 April 2015

LAMPU HIJAU ! LAMPU MERAH ??



LAMPU HIJAU!LAMPU MERAH?
Mengapa tak sejalan pada garis yang kau buat waktu itu. Dulu kau begitu menggebu membicarakan ikatan antara aku dengannya. Sekarang, kau diam, acuh, dan berusaha memisahkan cinta semu yang kami bangun ini. Entah ada atmosfer apa yang membuat kau seperti ini. Aku tahu, ikatan kami bagaikan bayangan semu yang bisa saja akan perlahan ditelan detak waktu. Namun, sikapmu membuat aku terpecah menjadi dua, ya hatiku pecah. Memilih keputusanmu atau tetap bersamanya. Memilih tetap bersamanya, sama saja aku melunturkan cinta putih nan murni yang kau lukiskan selama hidupku. Memilih keputusanmu, cinta semu antara aku dengannya akan pupus pada akhirnya.
Aku Nisa. Aku ini memang anak yang penurut. Apapun keputusan orangtuaku harus aku ikuti. Segala pilihan hidup yang akan aku pilih, selalu aku musyawarahkan dengan keluargaku. Ya ini sudah menjadi tradisi dikeluargaku. Keluarga yang penuh demokratis, bebas mengeluarkan pendapatnya masing-masing.
Kegiatanku di luar rumah cukup padat, aku aktif dibeberapa organisasi dan komunitas. Hari minggu seperti ini memang aku habiskan sebagian waktuku di luar rumah.
“Yah, Bu, aku berangkat dulu,” ujarku,”hari ini aku ada acara di Kota Tua.”
“Iya Nisa, kamu hati-hati jangan pulang sore-sore.”
            Aku berjalan menelusuri ruwetnya Ibukota. Bertarung dengan badan-badan manusia yang bervariasi ukurannya, demi mencapai halte Transjakarta yang memang sedang penuh itu. Aku keluarkan ponselku dari dalam tas, mencoba menghubungi seseorang untuk menjemputku. Namun, berkali-kali menghubungi tak ada jawaban. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan ku menuju halte Transjakarta itu.
Tiba-tiba saja ponselku berdering, mengalihkan perhatian banyak orang yang langsung menatap ke arahku. Tertera nama Ari di panggilan masuk itu. Aku luncurkan ponselku ke telingaku.
“Assalammmualaikum Nisa, kamu dimana? Maaf ga diangkat telepon dari kamu, tadi aku lagi jalan.” ujar Ari.
“Di halte transjakarta, aku mau ke Taman Kota.”
“Aku jemput ya, kamu keluar lagi dari haltenya. Tunggu disitu, jangan kemana-mana. 15 menit lagi aku sampai situ.”

Ari adalah kekasihku, dia memang selalu ada buat aku, kami sangat bahagia, kami saling merajut benang-benang untuk membentuk sebuah hasil rajutan yang indah. Dia tidak bisa meninggalkan aku sendirian di tengah kerumunan orang. Benar saja, 15 menit kemudian Ari datang dengan kendaraan sepeda motornya itu. Motornya melaju dengan santai menikmati perjalanan Ibukota.
Tak terasa sudah memasuki senja sore, warna langit pun sudah berubah. Sesuai perkataan Ibu ku, aku tidak boleh pulang sore-sore. Akhirnya pun, Ari mengantarkan ku pulang sampai rumah.
Sesampai dirumah, ternyata Ayah, Ibu, dan kakak-kakakku sedang berkumpul diruang tamu. Seperti biasa Ari bersalaman dan mencium tangan kedua tangan orangtuaku Namun, ada kejanggalan diraut wajah mereka terutama orangtuaku ini. Ada sebuah raut ketidaksukaan ketika aku dan Ari memasuki ruang tamu. Akan tetapi, Ari harus segera pulang karena ia akan mengantarkan saudaranya. Aku mengantarkan Ari sampai gerbang rumah, mengucapkan terimakasih karena telah menemani seharian ini. Setelah bayangan Ari tak nampak, aku masuk ke rumah kembali.
 Ayah langsung bangkit dari sofa lalu masuk ke dalam kamar sedangkan Ibu memanggilku untuk ikut ke dalam kamarnya. Kakak-kakakku masih tetap berada diruang tamu dan menikmati acara di televisi.
Hatiku langsung menerka-nerka, mengapa sikap orangtuaku begitu acuh terhadap Ari. Aku menuju kamar orangtuaku.
“Ada apa Bu,?” kataku.
“Nisa, Ayah sama Ibu harus bicara sama kamu,” ujar Ibu, ”hubungan kalian harus disudahi saat ini juga Nis.”
Jleb! Aku langsung menutup mulutku dengan tanganku. Rasanya tak percaya ketika Ayah berbicara seperti itu.
“Mengapa Yah mengapa? Ada apa ini sebenarnya? Mengapa Ayah tiba-tiba berbicara seperti itu?”
“Nisa, Ayah minta maaf. Ini semua demi kebaikan kalian. Hubungan kalian untuk saat ini cukup berteman saja.”
“Alasannya apa Ayah?” aku menengok kearah Ibu, ”Bu mengapa bisa seperti ini.” akhirnya airmataku meluncur dengan deras dipelupuk tulang pipiku.
“Kamu harus fokus kuliah Nisa, Ayah tidak mau kuliahmu terganggu. Ingat Nisa masa bakti ayah sudah hampir habis. Hanya kamu harapan Ayah dan Ibu satu-satunya.”
“Tapi Ayah, Nisa sayang Ari. Ari pun sama sayang sama Nisa,” ujarku sambil mengusap butiran yang menempel dipipiku,”selama ini kuliah Nisa tidak terganggu kok Yah, justru Nisa jadi semangat kuliahnya karena kami sering belajar bareng, saling membantu dalam hal mengerjakan tugas kampus.”
“Cukup Nisa, mengapa kamu jadi tidak penurut seperti ini. Ayah sudah bilang, ini kebaikan kalian dan juga kebaikan Ayah dan Ibu. Masuk kamar, mandi lalu solat magrib!” bentak Ayah.
“Baik Ayah, maafkan Nisa. Permisi.” Seraya meninggalkan kamar orangtuaku.
            Baru pertama kali ini, ayah membentakku seperti itu. Ya Tuhan, mengapa akhirnya seperti ini. Apa yang harus aku lakukan. Bagaimana pula aku mengatakan hal ini kepada Ari. Aku mencari ponselku untuk menghubungi Ari. Tak perlu menunggu lama, terdengar suara Ari di dalam ponsel tersebut. Aku mengatakan bahwa esok hari, ada hal penting yang harus aku bicarakan dan Ari pun menyetujui perkataanku. Sempat menanyakan ada apa masalahnya, namun aku mengelak kalau hal ini harus dibicarakan empat mata dan tidak bisa dibicarakan lewat ponsel seperti ini.
            Terdengar suara ketukan pintu dan disusul dengan suara lembut Ibu. Ibu menghampiriku yang tengah berbaring di tempat tidur. Melihat mataku yang sembab akibat deraian airmata, Ibu langsung memelukku dan berkata,”Nisa sayang, kamu tidak boleh seperti ini Nis. Apa yang dikatakan Ayah tadi benar. Walaupun Ibu paham akan hatimu ini.”
            “Ibu, boleh Nisa bertanya?” ujarku seraya melepaskan dekapan Ibu,”mengapa dulu Ibu dan Ayah merestui hubungan Nisa dan Ari bu? Mengapa ketika rajutan yang kami buat hingga sejauh ini harus berhenti sampai disini Bu.”
            “Jujur saja Nisa, Ibu dan Ayah melarang kamu untuk menjalani hubungan spesial dengan pria mana pun. Namun, dengan Ari ini, kami memberikan kesempatan kepada kalian untuk bisa mengenal satu sama lain. Ari baik dimata Ibu dan Ayah, Ari juga sayang sama kamu Nisa. Tetapi Ayah dan Ibu lebih sayang kamu, rasa kasih sayang yang kami berikan pun murni nan tulus Nisa.”ujar Ibu sambil membelai rambut hitam panjangku.

            Ketika Ibu berbicara seperti itu, mulutku hanya bungkam tak dapat mengeluarkan kata-kata. Memang  benar juga apa yang dikatakan Ibu. Perbincangan antara aku dan Ibu harus berhenti karena hampir larut malam. Seperti biasa, Ibu mencium pelipis jidatku dengan lembut dan mengucapkan ‘selamat tidur dan semoga mimpi indah’ untukku.
                                                ***
            Selepas kegiatan belajar dikelas, ayunan kakiku ini melangkah dengan cepat menuju suatu tempat yang memang menjadi tempat kesukaan kami. Aku melihat sosok lelaki dengan postur badan yang tinggi, berkulit putih, dan berkacamata itu sedang duduk dibawah pohon yang kami sebut ‘pohon bercerita’ karena banyak cerita yang kami ceritakan ketika kami sedang duduk di bawah pohon tersebut.
            Aku menghampiri Ari, lalu duduk disampingnya. Meminta maaf karena sudah telat datang. Melihat paras Ari yang begitu indah aku tidak tega mengatakan ini semua.
            “Nisa, ada apa? Mengapa wajahmu begitu tidak ceria seperti biasanya, kamu sakit?” kata Ari seraya memperhatikan kondisiku.
            “Tidak Ari, aku tidak sakit. Hanya sedikit kurang tidur saja semalam, karena harus mengerjakan tugas kampus,” ujarku dengan sedikit berbohong kepada Ari.
            “Syukurlah kalau kamu tidak sedang sakit Nis, oh iya, ada hal apa yang harus dibicarakan?”
            Langsung saja aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dengan segenap keberanian, dengan segenap keteguhan hatiku, aku ungkapkan kepada Ari. Namun, terlihat diwajah Ari tidak ada tanda-tanda wajah yang sedih, kaget, ataupun kecewa. Bahkan, terlihat wajah yang lembut, wajah yang penuh dengan senyuman khasnya itu.
            “Nisa sayang, aku sudah tahu semuanya apa yang terjadi. Semalem Ayahmu datang ke kostanku dan membicarakan masalah ini baik-baik. Benar apa yang dikatakan Ayahmu. Rajutan hubungan yang kita buat ini memang hanya bersifat semu,” kata Ari.
            Kami terdiam sesaat. Tak ada yang berbicara baik aku ataupun Ari.
            “Ikutilah kata orangtuamu Nis, aku ikhlas, tapi aku akan jaga kamu seperti sediakalanya. Untuk saat ini, kita berteman dulu. Kita perbaiki akhlak kita sambil menjaga hati kita ini. Insya Allah, jika Allah mengizinkan kita sampai hari yang halal buat kita nanti kelak.”
            Ah Ari memang pria yang dewasa pemikirannya, tidak salah aku dulu memilih untuk bisa mengenal Ari. Aku hanya bisa tersenyum disaat itu. Ari mengusap airmataku dan memeluk tubuhku sambil membelai rambutku.
            Tiba-tiba Ari melepaskan dekapannya dan berkata, “Nisa! Maukah kamu kalau kita kawin lari saja?” ujar Ari sambil berdiri lalu lari meninggalkan aku. Aku langsung mengejar Ari pada saat itu. Enak saja dia ngajak kawin lari. Memangnya tidak capek kalau kawin sambil lari-lari. Hahaha. ***

Begitu menyakitkan memang jika suatu hubungan tidak direstui oleh orangtua. Lebih menyakitkan dibanding dengan suatu perselingkuhan yang sedang marak terjadi di era globalisasi percintaan pada masa saat ini. Disaat dua hati manusia yang sedang diselimuti baluran kasih sayang tiba-tiba harus dipotong dengan sebuah pemotong yang tajam. Keputusan orangtua Nisa memang baik untuk Nisa maupun Ari kedepannya akan tetapi hati Nisa masih menerka-nerka akan keputusan itu. Nisa hanya bisa mengikutinya dengan hati yang tegar dan mencoba untuk menerima.
“Darimana kamu Nis ?”Tanya Ibu,” sudah malam begini kamu baru pulang.”
“habis jalan sama Ari Bu. Maaf Nisa tidak izin karena tadi baterai ponsel Nisa habis.”
“mulai saat ini waktu

Selasa, 13 Januari 2015

Profilku



Profilku
                Bramandika kusuma wijaya adalah nama lengkap ku, aku adalah anak kedua dari dua bersaudara dari keluarga bapak Haryadi. Kakak ku bernama ayu melia wijaya, dan ibu ku bernama Kusmiati. kami adalah keluarga kecil yang sangat demokratis, segala sesuatu harus di musyawarahkan terlebih dari, mulai dari hal kecil sampai hal besar sekali pun.
                Dulu aku tinggal didaerah Jakarta timur hingga pada tahun 2000 kami memutuskan pindah rumah ke daerah Bekasi, waktu itu aku duduk di kelas 1 sd caturwulan ketiga, dulu sistem pendidikan indonesia masih menggunakan caturwulan, sedangkan sekarang menggunakan sistem semester. aku di sambut dengan teman-teman kelas dengan antusias, karena aku anak pindahan dari Jakarta. mereka sangat ramah padaku hingga menginjak bangku kelas enam dan lulus ujian nasional dengan nilai yang lumayan bagus. Setelah lulus di bangku SD, aku pun melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) di salah satu SMP bonafit.
                Hari pertama masuk sekolah, aku hanyalah anak ingusan yang mudah sekali di Bully oleh teman-teman kelas ku. namun aku tidak putus asa, hingga akhirnya aku tertarik akan ekskul basket di sekolah ku. kelas tujuh adalah debut pertama ku di karir basket SMP ku, dan pada kelas delapan semester satu aku sudah masuk dalam daftar tim inti basket sekolah ku, dan mewakili sekolah ku di kejuaraan besar tingkat kabupaten Bekasi. namun karena ketatnya persaingan antar seklah yang sangat ketat, sekolah ku hanya mampu sampai babak semifinal dan gagal menjadi juara satu. setelah itu aku dan teman-teman tim ku berlatih sungguh-sungguh hingga kami lulus dan menghadiahkan sekolah kami sebuah piala paling bergengsi di kabupaten Bekasi. ujian nasional pun telah selesai dan aku lulus dengan nilai yang sanyat memuaskan.
                Masa SMA pun telah tiba, masa dimana siklus hidup sebagai seorang ABG di lalui, masa dimana aku mengenal cinta, persahabatan, dan persaudaraan. aku tetap masuk dalam eskul basket sekolah, dan itu membuatku banyak di kenal oleh teman-teman sekolah yang bahkan aku tidak kenal. Semuanya sangatlah indah sampai waktu memisahkan semuanya. sahabat-sahabatku, akan pasti akan meneruskan pendidikan mereka di perguruan tinggi. Dan aku pun begitu, aku meneruskan jenjang perguruan tinggi ku di Universitas Gunadarma.
                Dibangku perkuliahan, aku memiliki organisasi kampus yang hampir setiap bulannya memiliki jadwal yang segudang. dari pertama kali aku menyentuk dunia pendidikan hingga saat aku  memasuki perguruan tinggi, masa sibuk pun datang dan aku pun selalu di banjiri oleh jadwal yang sanagt tidak bisa di prediksi. Kadang aku harus ekstra menjaga kondisi agar semuanya kegiatan ku menjadi lancar. di dunia perkuliahan sering sekali kita menemui banyak kendala, dari mulai matakuliah yang sulit, hingga tugas kuliah yang terkadang membuat aku gundah gulana. namun itu lah dunia perkuliahan, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menerimanya dengan lapangdada.

               

Cerita Cinta



Cerita Cinta
Siang yang sangat panas kota Bekasi membuat aku dan temanku Reno memutuskan untuk bersinggah sebentar di sebuah mall besar di dekat kampus. aku langsung membelokkan kendaraanku untuk memasuki mall tersebut. sesampainya disana kami langsung menuju  tempat yang sering kami datangi dan memesan minuman. Kami adalah teman dekat dan kami selalu berbagi cerita, mulai dari cerita tentang masalah dia dengan kekasihnya, sampai cerita tentang masalah pribadi kami berdua. aku belum memiliki pasangan waktu itu, jadi aku hanya mendengarkan dia bercerita saja seharian. sampai pada akhirnya dia bilang ” dik, kapan mau punya pacar ? “ aku hanya menjawab “ nanti, kalo udah ketemu yang pas “ Reno menjawab “ Dari sebulan yang lalu kayanya jawabannya hanya itu itu saja, memang tidak bosan sendiri terus ? sebentar lagi kan tahun baru, masa tahun baru sendirian terus ? ” dan saya pun hanya tersenyum saja.
                kami berbicara panjang sampai akhirnya waktu pun mengajak kami untuk kuliah dan kembali ke kampus, kami mendapatkan waktu kuliah sore hari dan kebetulan langit pun lumayan bersahabat, sudah tidak panas lagi melainkan berawan dan cenderung mendung, aku langsung saja pergi kekampus dengan terburu-buru karena khawatir akan hujan.
                Malam harinya, terpikir juga oleh ku akan pertanyaan reno tadi siang. Sudah setahun aku sendiri, padahal banyak wanita yang dekat dengan ku, tapi sampai saat ini belum terpikir oleh ku untuk menjadikan mereka pacar ku. Kesibukan ku akan kuliah dan basket membuatku tidak terpikir akan hal tersebut, itu lah alasan ku untuk tidak pacar sebelum menemukan yang pas.
                sampai pada suatu malam, aku merasa semua pekerjaanku telah selesai dan tidak ada jadwal latihan basket, sehingga bosan pun mendesak ku untuk mengecek kontak smartphone blackberry ku. Ada satu sosok yang asing bagiku, aku pun belum pernah mengenalnya, sampai ada inisiatif dari kepala ku untuk memulai obrolan via bbm (blackberry messanger), aku bertanya padanya “ itu foto kamu lagi di metro tv ya ? “ hanya kalimat tersebut yang aku lontarkan padanya. aku memang tidak memiliki skill untuk berkenalan dengan banyak wanita seperti reno, bisa di bilang aku lah yang paling payah dalam urusan tersebut.
                kami ngobrol via chat  bbm sampai malam dan kebetulan dia lagi di jalan jadi anggap saja aku sambil menemaninya sewaktu dia dijalan pulang. entah kapan akhirnya yang jelas aku tertidur di tengah obrolan menarik kami seputar dunia enterteiment. pagi harinya aku sempat lupa akan obrolan semalam, hingga teman ku Reno bertanya pada ku, “ gimana ? udah ketemu yang pas belum?” , aku terdiam sejenak dan berfikir, apakah Reno yang menaruh kontak wanita itu di ponsel ku ? masih tanda tanya memang, namun ya aku jawab saja sambil tersenyum“sepertinya akan ada yang pas buat ku nanti, bukan sekarang. “  Reno bertanya lagi “ kapan mau ketemu dengannya ? jangan lama – lama, nanti di ambil orang loh.” aku hanya senyum dan berkata “ nanti , tunggu saja tanggal mainnya, kami baru kenal no, dan masih jauh juga kan malam tahun baru? jadi liat saja nanti.”
                seiring berjalannya waktu aku pun merasa nyaman pada wanita ini, namun untuk malam tahun baru, sepertinya tidak untuk dia. Lama-lama kami menjadi dekat dan akhirnya aku dan dia sama – sama meliki perasaan yang sama, singkat memang, namun itulah yang terjadi sekarang. awal tahun 2014 tepatnya tanggal 12 januari 2014 adalah hari yang paling istimewa untuk kami berdua, karena pada saat itu, kami pun resmi menjadi sepasang kekasih. hingga saaat ini 12 oktober 2014 kami sudah 9 bulan pacaran. Hingga akhir kamu putus.                                                        

PH (Play Hour)



PH (Play Hour)
                PH adalah salah satu club basket terkuat di kota bekasi, sejak aku bergabung dengan club tersebut, kami sudah memenangkan banyak kejuaraan tingkat kota maupun propinsi. club basket ini terdiri dari 3 tim, yaitu tim a yang merupakan andalan club dan menjadi tim saya , tim b yang merupakan pelapis dari tim jika jadwal pertandingan bentrok dan menjadi tim yang main di defisi 1 kota bekasi , kemudian tim c yang merupakan tim yang isinya adalah member yang baru saja bergabung dengan club.
                aku dan keenam teman setim ku selalu berlatih bersama setiap harinya, walaupun kami tidak berada dalam sekolah SMA yang sama, namun jadwal latihan kami tidak pernah terganggu dan kami selalu on time dalam latihan. danang, fikri, dan melvin adalah andalan kami dan mereka sudah mengenal satu sama lainnya sejak di bangku SMP. Sedangkan aku, bisa di bilang anggota baru dalam tim a, sebelumnya aku bermain untuk tim b.
                kejuaran Liga Basket antar Pelajar tingkat SMP, SMA, dan Club bulan depan adalah kejuaraan terakhir kami bersama PH, sebab kami berenam sudah memutuskan untuk pindah dari club, dan ada sebab lainnya yaitu dengan berpindah tangan kepengurusan lama ke pengurusan yang baru sehingga pelatih dan official tim memiliki perubahan, sehingga club secara keseluruhan telah di rombak oleh kepengurusan yang baru.
                singkat cerita, pertandingan hari pertama telah kita lalui dengan kemenangan telak dari tim lain, kemenangan demi kemenangan telah kita lalui dengan mudah hingga kami tiba di babak semi-final. semi-final ini mempertemukan 4 tim terkuat di Bekasi yang selalu haus akan tropy kemenangan, tim kami PH melawan tim Virus yang merupakan tim musuh bebuyutan selalu menampilkan pertandingan yang menarik, permainan yang cepat dan keras selalu menghiasi menit demi menit pertandingan, sampai pada akhirnya tim kami menang tipis 66­ – 67 dari tim Virus dan menempatkan kami ke puncak turnament melawan tim terkuat nomor 2 di bekasi yaitu tim Flame.
                hari puncak pun tiba, kami disambut dengan antusias oleh penonton yang mendukung kami dan tim lawan. kami (PH dan Flame) selalu bertemu di setiap final kejuaraan apa pun dan selalu menang bergantian, pertandingan bulan lalu adalah kemenangan buat Flame dan kami tidak akan membiarkan mereka menang lagi di final ini. jump Ball tanda quarter pertama telah dimulai, dan kami bermain sama agresifnya. kami yang hanya berenam melawan mereka yang memiliki pemain yang lengkap tidaklah mudah melawannya. Kami mati-matian berjuang demi kemanangan kami, hingga 3 menit waktu yang tersisa pada quarter empat aku mendapatkan empat pelanggaran yang membuat seluruh teman ku frustasi dan kehabisan akal.
3menit adalah waktu yang lama, skor sementara adalah imbang 53 - 53 , pelatih ku meminta time out dan menginstruksikan teman - teman ku untuk bermain lepas dan tetap konsentrasi dalam pertandingan. pertandingan dimulai dan permainan sengit pun dimulai, aku yang hanya bisadiam di bangku cadangan harus bersabar menunggu menit-menit terakhir pertandingan agar aku bisa dimainkan, semua harapan tim ada di teman - teman ku yang sedang bertahan dan menyerang dilapangan, hingga saat – saat aku di mainkan kembali pun telah tiba. 50 detik terakhir yang membuat semua orang bingung akan siapakah yang akan menang dalam pertandingan ini. hingga 10 detik terakhir skor di ungguli oleh Flame dengan 75 – 77, hingga 3 detik terakhir aku mendapat kesempatan untuk menembak dari luar garis 3poin, dan keputusan ku adalah menembak bola tersebut, tapi ternyata bolanya tidak masuk kedalam ring. Skor akhir adalah 75 – 77 untuk Flame.